obamabush

Profil Elpema

Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Papua didirikan oleh Kaum Muda Papua pada tanggal 10 November 2008 yang disyahkan oleh Notaris Agustina . Elpema Papua [...]
beyone

Kisah-kisah Pemulung Di Negeri Emas Nabire

Yakob . Begitulah panggilan anak berusia 11 tahun yang kesehariannya yang kerjanya hanya memulung sampah dipinggiran jalan raya, seputaran tumpukan sampah, juga di kompleks rumah warga . Pagi itu [...]
Guns N 'Roses

KAPAN PEREMPUAN PAPUA BERJUALAN DALAM PASAR

Bagi Perempuan Papua pasar bisa di jalanan,di atas jembatan, di emperan Toko, depan Terminal ,lorong Pasar , di atas onggokan sampah atau dengan kata lain Jalanan, jembatan , kolong los pasar, depan terminal, emperan [...]
Dari Kegiatan Peluncuran Buku Mob

Dari Kegiatan Peluncuran Buku Mob

”Pace Kobogau pergi ikut seminar bahaya AIDS yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Lantas pada sesi tanya jawab Pace Moans berdiri dan angkat bicara”Sa mo usul supaya BUPATI dan SEKWILDA yang ada di daerah ini segera letakan jabatan sebab jabatan [...]
ipod

KANTOR ELPEMA

Potret Kantor Elpema,[...]

Minggu, 16 Agustus 2009

Dari Kegiatan Peluncuran Buku Mob


”Pace Kobogau pergi ikut seminar bahaya AIDS yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Lantas pada sesi tanya jawab Pace Moans berdiri dan angkat bicara”Sa mo usul supaya BUPATI dan SEKWILDA yang ada di daerah ini segera letakan jabatan sebab jabatan itulah yang membawa penyakit AIDS. Bagaimana tra bisa dapat AIDS, dorang selalu berada Sekitar Wilayah Dada (SEKWILDA) dan Buka Paha Tinggi-Tinggi (BUPATI). “Maka itu segera turun dari wilayah itu” ujarnya meyakinkan. Hadirin dan nara sumber tertawa mati sampe ingus hampir tampias.”

Atau Dalam rangka pemilihan kepala desa, paitua Yaoman berdialog deng dia pu warga desa setempat. Trus paitua satu badiri tanya sama calon kepala desa itu”akibat krisis moneter dan ekonomi, harga obat-obatan saat ini sangat mahal, kitong banyak yang tra mampu membeli. Trus tindakan apa yang paitua lakukan untuk mengatasi hal tersebut kalo bapak terpilih jadi kepala desa?”. ”sa akan perintahkan agar warga tra usah sakit dulu lah!!!. Pas pada waktu pemilihan kepala desa digelar paitua Yaoman hanya dapat satu suara dari dia pu maitua saja.

Demikian dua buah penggalan isi mob yang sempat mewarnai dalam bedah buku Mob Ala Papua yang diluncurkan kemarin( kamis,16/03) dihadapan sejumlah aktivist LSM, Jurnalis, dan mahasiswa,tokoh masyarakat dan tokoh agama . Dalam buku Mob yang dipersembahkan kepada masyarakat Papua dengan tajuk Ketawa Itu Penting Too itu sempat diwarnai dengan mob-mob lucu yang disumbangkan ole para hadirin sehingga keadaan penuh dengan canda tawa .

Dalam kesempatan itu Emanuel Goo mengatakan Dalam Kehidupan Orang Papua, kaya dengan cerita rakyat selain cerita legenda , totem, cerita horor, pengalaman hidup yang horor, dan cerita lainnya . Dari sekian cerita yang beredar dalam dikalangan rakyat Papua adalah cerita lelucon alis Mob yang acapkali mengundang gelak tawa juga mengandung protes sosial serta sebagai sarana pelepas kattup stress. Mop yang beredar dalam kalangan rakyat Papua diceritakan secara lisan dari mulut ke mulut tanpa adanya pendokumentasian , sebab mop mengandung multi nilai yang cukup penting dalam kehidupan Mereka . Selain protes sosial, pelepas kepenatan , ketegangan dari rutinitas .

Dalam kalangan rakyat Papua , punya banyak kisah menggelitik. Salah satunya, ya, itu tadi: Mop Sekwilda dan Bupati . Disini akan membawa manusia akan pentingnya rasa humor dalam hidup, lebih-lebih untuk 'menyelundupkan' pesan yang sulit disajikan dalam komunikasi yang wajar.

Koresponden Tabloid Sura perempuan ini mengakui selama ini banyak mop yang beredar di kalangan masyarakat namun tidak dibaca dalam bentuk melainkan disebarkan secara lisan dari mulut ke mulut .Sehingga selama ini pula rakyat Papua hanya menjadi konsumen dari buku-buku novel, cerita rakyat , humor yang disajikan ala Jawa , Madura , yang akhirnya sebagian istilah yang digunakan sulit diselama oleh pembaca. Padahal anekdot,homor, cerita lelucon orang Papua yang selama ini bersebaran di masyarakat sangat kaya akan makna yang mestinya digali dan didokumentasikan kembali agar tidak hilang begitu saja . Semestinya ini tugas dinas pariwisata dan kebudayaan juga Dinas Pendidikan dan pengajaran Provisi Papua .

Mob dalam bentuk anekdot - di mana efek tawanya hanya sekadar alat untuk menuju sasaran akhir berupa kritik sosial - sesungguhnya merupakan cermin dari kondisi sosial masyarakat . Dalam konteks inilah Mob menjadi semacam kiat untuk menyiasati berbagai tekanan. Di sinilah pentingnya humor dalam hidup. Humor dalam bentuk anekdot - bersifat politis, , atau apa pun - itu berfungsi sebagai katup pelepas.

Secara teoritis Mob dapat dipandang sebagai model percakapan yang mempunyai arti sosial. Dengan kata lain, Mob juga terkait dengan cara berpikir sosial. Dalam kultur sosial kita, Mob dengan berbagai bentuknya sangat pas dengan kepribadian suatu suku bangsa .

Menurut Goo, Mob dapat menimbulkan gairah baru. Di sisi lain, Mob juga berfungsi untuk menghilangkan kecemasan sekaligus alat kontrol sosial. Joke politik di satu sisi merupakan ungkapan dari 'kecemasan' terhadap masalah politik, di sisi lain dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari kontrol sosial.

Lebih jauh dikatakan emanuel , rasa humor penting untuk hidup. Mob yang identik dengan senyum dapat membuat orang lebih merasa enak. Ia bisa melepaskan orang dari rasa tertekan, membuat otot-otot wajah terasa rileks, dan membuat jiwa seseorang menjadi lebih hidup. Humor memang komoditi yang menggairahkan.

KALANGAN pemilik Mob percaya, dalam masyarakat yang 'sakit' Mob apa pun bentuknya - sangat diperlukan. Di tengah masyarakat yang tertekan, di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, di tengah hiruk-pikuk kecemasan sosial, humor menjadi semakin penting untuk lepas dari kesumpekan itu. Seperti situasi sekarang di Nabire. Dalam masa pilkada ini masyarakat dibingungkan oleh masalah politis yang nasibnya kurang jelas.

Dalam situasi semacam ini Mob bisa menjadi semacam katup pelepas, paling tidak untuk menertawakan diri sendiri dengan cara memberi harapan-harapan semu. Anekdot sudah merupakan terapi murah buat masyarakat yang sumpek, sekaligus merupakan peluang untuk meluncurkan kritik-kritik sosial yang pedas tanpa konfrontasi

Bahwa di masyarakat kita sekarang Mob begitu bertebaran dalam bentuk dan sifatnya yang beragam, atau semakin 'brutal' (meminjam istilah Putu Wijaya), boleh jadi itulah cermin masyarakat Dan, kehadiran anekdot di tengah-tengah kita adalah bentuk lain dari apa yang disebut Putu Wijaya sebagai penggembosan terhadap berbagai tekanan yang menghimpit itu.

Dalam acara peluncuran tersebut emanuel meluncurkan 60 buku mob sehingga hadirin yang datang dari belakangan tidak dapat kebagian , mereka mengeluh kenapa dicetak dalam jumlah yang terbatas .

Seperti dikemukakan Silfester Tebay kepada media ini Hasil Karya anak-anak Papua ini seharusnya pemerintah peka dalam dukungan fasilitas maupun dana sehingga mereka berkreasi terus . Buku Mob yang ditulis oleh Emanuel ini langkah walaupun kita biasa cerita mob dengan siapa saja tetapi untuk mendokumentasikan dalam bentuk buku belum ada maka karya emanuel ini patut mendapat perhatian dari pemerintah Kabupaten ataupun provinsi Papua.

Sementara itu Emanuel Goo mengakui bahwa buku Mob ini dicetak sangat terbatas, hanya 200 eksamplar karena keterbatasan dana . Permintaan dan peluang untuk cetak ulang ada bahkan sampai sekarang sudah garap 12 edisi buku Mob tetapi karena terkait keterbatasan dana dan fasilitas maka belum terpikirkan untuk cetak buku mob seri kedua dan selanjutnya . “ Saya terbitkan 200 inikan karena ada belas kasihan ibu Sipora Boray maka buku ini bias diterbitkan , sehingga para hadirin yang tidak dapat buku harap dimaklumi akan keterbatasan ini “ akunya . ( eg )
Continue reading...

Sabtu, 15 Agustus 2009

KAPAN PEREMPUAN PAPUA BERJUALAN DALAM PASAR ?



Bagi Perempuan Papua pasar bisa di jalanan,di atas jembatan, di emperan Toko, depan Terminal ,lorong Pasar , di atas onggokan sampah atau dengan kata lain Jalanan, jembatan , kolong los pasar, depan terminal, emperan toko, di atas onggokan sampah bisa jadi pasar. Lalu bagaimana perhatian manusia di negeri ini?

Rata-rata seluruh Pasar yang ada di seantero Papua, baik di Nabire , Biak, Timika, Jayapura, Serui, Manokwari dan daerah lainnya dikuasai oleh para pendatang, sementara pedagang pribumi yang nota benenya Kaum Perempuan Papua tidak mendapat tempat jualan yang permanent, sehingga terpaksa mereka harus berjualan di lorong-lorong pasar, emperan toko, beralaskan sebuah karton ,berlantai tanah dan beratap langit. Ketika hujan turun mereka lari terbirit- birit mencari tempat perlindungan . Akan hal yang sama dihadapi ketika matahari menyengat kulitnya sekaligus jualannya maka kerugianlah yang diperoleh bukan lagi keuntungan. Lantas Kapan Perempuan Papua berjualan di Pasar yang permanent? Dimana slogan Otsus akan menjadi Tuan Diatas Negerinya Sendiri ? Kapan akan terwujud?

”Ibu Marsela misalnya baru saja turun dari taksi dengan membawa 2 karung sayur bayam di pasar Karang Tumaritis . Karena tidak ada tempat jualan yang permanent maka segera saja ia membuka karung plasticnya di atas onggokan sampah.Di atas onggokan sampah Marsela menggelar hasil kebunnya di atas tumpukan sampah yang berbau amis. Di sebelah Marsela, ada beberapa perempuan sudah memajangkan jualannya,sedang menanti pembeli. Tapi hari itu pembeli terasa sepi sebab hari tanggal tua . Matahari semakin lama semakin menyengat kulit sehingga jualan mama-mama ini mulai layu. Sementara manusianya pun mulai layu karena matahari kian membakar kulit sehingga semakin menambah hitam . Kendati beratapkan langit dan berlantai tanah, Marsela masih sabar menunggu pembeli namun hari itu sepi, sayur sudah layu dimakan matahari . Kini sudah pukul 14.40 sayur semakin pudar kesegarannya maka ia memasukan sayurnya dalam karung lalu pergi membuangnya di tempat sampah yang tak jauh darinya. Beberapa ikat sayur diberikan pada seorang ibu yang jualan disampingnya.Lalu 2 ikat dimasukan dalam nokennya lalu ia naik taksi pedesaan Wanggar pulang ke rumah. Dengan wajah lunglai ia turun dari taksi disambut oleh 2 orang anaknya. “Mama datang. Mama mana saya punya pesanan?”teriak kedua anaknya seraya menyambut kedatangan mamanya. “saya tidak beli sebab mama punya jualan tidak laku” kata Marsela wajah sedih sembari memberikan 2 potong roti yang dibelinya sekedar menyenangkan hati mereka.”


Lantas kita tilik kondisi Perempuan Papua yang jualan di Pasar Sore Siriwini,oyehe . Rata- rata mereka berjualan di bawah terik matahari untuk mengais 1000 rupiah untuk sekedar membeli kebutuhan keluarga hari itu. Mereka menebarkan jualan di atas tanah beralaskan sebuah karton, ataupun karung. Di distrik Ikrar Kaum perempauan berjualan di sepanjang jalan raya Trans Nabire – Enarotali. Masyarakat yang mendiami sekitar KM 205 dari kota Nabire ini hingga kini belum dibangun pasar yang permanent. Atau distrik Kamuu. Karena di dalam pasar sudah tidak mampu menampung banyaknya penjual maka mereka menggelar jualan di luar pasar .Lantas bagaimana keadaan pedagang perempuan Papua di Jayapura, Timika, Biak, Sorong dana daerah lainnya ? Apakah pemandangan yang sama dengan perempuan Nabire yang selalu berjualan di atas tanah ini juga terjadi di daerah lain ? .

Di Jayapura misalnya, ketika berjalan-jalan Pusat Kota Jayapura sepanjang Lorong Jalan Matahari Ampera dapat menemui perempuan Papua berjejer menjual sayur-sayuran berbekal potongan-potongan karton. Kita tilik lagi di atas trotoar jalan Ahmad Yani kota Jayapura di sana dapat ditemui sejumlah perempuan menggelar jualan hasil produknya. Atau belok lagi sepanjang jalan irian pas diemperan toko mereka berjualan, terus Depan Pelni lama rata-rata perempuan Papua berkutat dengan jualannya kendati Toko Geleal menjadi saingannya sebab Toko ini menjual sayuran segar.Namun perempuan-perempuan Papua dengan tegar menjual hasil produknya. Tak peduli kalau saingan dengan pemilik modal besar . Sempat terjadi penggusuran namun mereka menjual kembali sebab tidak ada tempat untuk berjualan lagi. Pasar yang adapun sudah dimonopoli kelompok yang punya modal besar maupun para pendatang . Maka walaupun diusir mereka kembali menggelar jualannya.

Keadaan kaum perempuan Papua dalam dunia perekonomian di Timika malah lebih memprihatinkan nampak terlihat. Di mana perempuan Papua rata-rata menjual dilorong pasar sementera los –los pasar dikuasai orang lain.Terpaksa mereka jualan dilorong pasar yang penuh dengan lumpur bahkanhasil produksi masyarakat lokal terpaksa dibeli oleh para tengkulak yang nantinya akan dijual kembali . Mereka relamelepas dengan harga yang miring karena mereka tidak ada tempat untuk berjualan . Sedangkan los-los yang ada dikuasai oleh para pendatang yang notabenenya pemburu dollar.

Di Biak Masyarakat di sana terutama kaum perempuan, mereka terpaksa menjual di pinggiran jalan raya pasar Inpres sebab tidak ada tempat jualan lagi bagi mereka . Keadaan yang sama juga dialami kota –kota lain di seluruh Papua .Lantas di mana lagi mereka akan jualan hasil karya? Adakah tempat di bulan? Kapan masuk jualan dalam Los Pasar yang permanent?

Continue reading...

Kisah-kisah Pemulung Di Negeri Emas Nabire


Yakob . Begitulah panggilan anak berusia 11 tahun yang kesehariannya yang kerjanya hanya memulung sampah dipinggiran jalan raya, seputaran tumpukan sampah, juga di kompleks rumah warga . Pagi itu (26/07)lalu Yakob yang berdomisili di Karang Mulia Nabire baru saja keluar dari rumahnya sambil menenteng sebuah karung plastic sementara ditangan kanannya memegangi sebuah besi beton sambil sesekali mengorek-korek sampah yang tersangkut diparit . Ia melongok sebuah tong sampah yang berada di dekat kali Nabire . Namun, sejak pagi tadi , tong sampah dibersihkan maka Ia meneruskan pemburuannya. Sebelum beranjak dari tempat sampah ada dua kaleng fanta tercecer diluarnya maka bergegas memungut dan memasukan dalam karunng yang sejak dari tadi belum dimasukan sebuah kaleng sebagai sasaran perburuannya . Tak ada yang bakal didapatnya , maka ia melangkah ke tempat sampah lain sambil mata nya melongok ke parit sebelah menyebelah . Ia menelusuri beberapa tong sampah namun tak ada yang didapatkan . Kemudian Ia merambah memasuki rumah-rumah warga yang dibilangan karang Mulia Nabire . Tak juga didapat , hanya dua buah rongsokan kompor tua yang didapat disebelah rumah warga,. Ketika dia memungut rongsokan terssebut , seorang Ibu separuh baya keluar memarahi Yones yang sedang mengeluarkan rongsokan itu . “ Eh…! Ko jangan pura-pura datang cari kaleng . Kamu datang ke sini tipu-tipu cari kaleng untuk curi kami punya barang –barang. Selkarang juga kau pergi dari sini, dari pada saya pukul kau disini. Kamu tidak ada kerjaan lainkah “ gertak seorang ibu dari dalam rumah . Maka Yakub yang sedang mengeluarkan rongsokan kompor minyak itu, tidak jadi ambil pergi dari kompleks rumah warga itu . Kemudian Ia pergi lagi mengambangi tempat sampah lain namun tidak didapatnya . Walaupun demikian Yakob tak putus asa untuk mencari dan mengumpulkannya . Beginilah nasib seorang anak Papua yang putus sekolah. Yakob demikian nama yang biasa dipanggil teman-temannya.


Sehari-harinya dia berkutat mengais rejeki ditengah hiruk pikuknya dinamika Kota Nabire . Kumpul kaleng di tong sampah adalah rutinitasnya setiap hari. Mencari dan mengumpulkan kaleng bekas dipinggiran kota Nabire baik diemperan tokoh, kompleks rumah warga, dipinggiramg sungai, parit, serta di bawah jembatan.


Dia sering disindir sebagai pemulung sampah. Maklum, setiap tong/tempat sampah bahkan dipingiran rumah masyarakat, dipinggiran sungai , dibawah jembatan, parit adalah wilayah operasinya. Praktis, makan dan minum seharinya tergantung dari hasil pendapatan penjualan kaleng kosong, di tempat penampungan barang rongsokan . Beginilah salah satu kisah nasib anak pemulung di Nabire dari sekian pemulung yang ada di Nabire .Lain dengan kisah Bonata Tebay pemulung p erempuan berusia 11 tahun yang sempat ditemui media ( 28/ 07) di sebuah tempat sampah Di jalan Pemuda Jembatan Kali Nabire . Hari itu dia sudah mengumpulkan dua karung kalengt belas . Karena hari itu dia pikul dua karung di terik matahari maka beristirahat diatas jembatan. “ Hari ini saya dapat kaleng banyak sekali sampe dua karung . saya keluar pagi sekali sebab kalau terlambat teman-teman lain yang dapat atau kitong biasa terlambat sebab trek sampah sudah angkut sampah duluan . Paling – paling dapat kaleng hanya seberapa . Itupun saya kumpul selama satu minggu baru saya biasa pergi jual sama pembeli . Tapi hari ini saya senang sebab saya dapat dua karung . Karena saya keluar dari dari rumah sejak pagi maka saya yang dapat ini dank arena saya cape , istirahat disini kaka” ujar gadis ini ketika berbincang –bincang dengan media ini . Bonata sudah lama melakoni pekerjaan pemulung sampah , sejak ibunya meninggal lalu ayahnya menikah dengan isteri pada dua tahun lalu . “ Saya kerja begini , setelah mama meninggal sebab bapak kawin lagi. Sejak itu saya keluar sekolah dari kelas III SD Negeri Karang Tumaritis . Kalau dapat kaleng maka saya jual lalu beli nasi kuning . Saya tinggal sama tante di Kaliharapan . Saya sudah lama melakukan kumpulkan kaleng , sebab kalau siang dirumah tante dorang tidak masak makanan maka saya mulai kumpul-kumpul kaleng seperti tetangga saya . Mula-mula saya ikut-ikutan teman-teman tetangga . Tapi sekarang saya sendiri bisa kumpulkan dimana-mana. Kalau sudah kumpul kaleng banyak, pergi jual asama mas-mas yang pembeli dengan harga 1 Kg Rp.3.000,- ” kisah gadis ini . “ Saya keluar sekolah karena mama meninggal lalu bapa titipkan saya sama tante, lalu dia kawin lagi . Di rumah tante , tidak biasa makan siang maka saya ,Teus( anak tantenya), markus selalu cari kaleng saja untuk membeli nasi atau kue” urainya .Inilah kisah Bonata Tebay , dan Yakub, lalu bagaimana dengan nasib pemulung Elias Murib yang beroperasi di KPR Siriwini ?. Belum lama ini Marsel datang berburu kaleng di kediaman agen media ini di jalan Padat Karya KPR Siriwini . Disana ketemu dengan media ini, kemudiaan sempat terlibat dalam sebuah perbincangan. “ ada simpan kaleng-kaleng kosongkah?”, tanya’ Yakobus . kenapa menekuni pekerjaan mencari kaleng ? “Ah.. saya tidak ada uang jadi saya kumpul-kumpul kaleng saja,” jawab Yunus.


“Terus kamu punya orangtua kandung masih hidup atau sudah meninggal?.” . “Masih hidup, tapi mereka tidak bayar uang sekolah,” balas yakobus . “Ooh... jadi orang tua kamu ada uang tapi mereka tidak bantu kamu sekolahkah?”, tanya media ini lagi . Yakobus menjawab, “Betul sudah, orang tua kalo ada uang selalu minum mabuk saja. Jadi saya dengan adik-adik, kerjanya kumpul-kumpul kaleng saja. Bapak punya uang hanya dipakai mabuk saja tapi biar , saya akan kumpul uang sendiri dan saya akan masuk sekolah, supaya saya juga sekolah seperti teman-teman saya yang. Saya sekarang dorang sudah masuk SMP . senang kalau saya sendiri cari uang untuk makan minum” Urai bocah berusia 12 tahun ini sembari ngeluyur pergi .
Demikian penggalan-penggalan realitas yang terjadi di Nabire yang konon negeri Emas . Rata-rata anak asli Papua bekalangan memilih menjadi pemulung sampah.Menurut Matias Ketua Solidaritas anak-anak jalanan Nabire mengatakan kisah tadi menampilkan sikap hidup keluarga (orang tua) yang tidak beres. Sikap orang tua yang mengorbankan anak dan membuat masa depan hidup anak menjadi terlantar. Baik pendidikan maupun ekonomi . Kenyataan hidup keluarga jaman sekarang yang mempraktekkan budaya boros dan budaya menghabiskan hasil pendapatannya, sehingga banyak anak Papua diterlantarkan oleh keluarganya. Bahkan hidup keluarga jadi berantakan.


Hidup keluarga dengan mabuk-mabukan selalu melahirkan berbagai ekses negetif seperti anak-anak tidak memperhatikan, suami dan istri selalu berkelahi, lantai rumah dan dapur tidak bersih, makanan keluarga tidak teratur degan baik, dan lain sebagainya. Menurut Pigay kisah nyata seperti yang dialami anak-anak ini , memang terjadi dan dapat di jumpai di berbagai kota-kota di Tanah Papua, termasuk di Nabire. Hal sama juga terjadi di pelosok-pelosok Papua sesuai perkembangan pembangunan dan dinamika kehidupan masyarakat .
Lebih jauh dikemukakan Matias realitas bahwa kondisi keluarga kurang harmonis karena kekeliruan pandangan dan mentalitas manusia. Pola pikir tentang keluarga yang keliru, yang tidak sesuai perubahan-perubahan jaman. Karena itulah, banyak keluarga miskin ekonomi dan akhirnya bercerai walaupun sudah nikah gereja, anak terlantar, gizi anak rendah, pendidikan anak rusak, dan sebagainya.


Disinyalir hal itu terjadi karena dalam suatu rumah ditempati oleh lebih dari dua atau tiga keluarga, lantas sebenarnya siapa pemilik rumah? Tidak jelas, jika sudah banyak keluarga tampung di satu rumah, banyak persoalan terjadi, apalagi keluarga yang ekonomi rendah, sulit membenahi kebutuhan sehari-hari. Sekalipun uang banyak, memiliki harta benda, tetapi bila tidak diatur baik, tidak menginvestasi, maka tetap miskin sampai mati.



Mantan Alumni Uncen Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial ini menilai, kadang orang salah berpikir bahwa seseorang menikah demi menghidupi semua kerabat keluarganya. Calon istri atau calon suami berfikir bahwa saya harus kawin dengan dia supaya dia harus memperhatikan keluaraga saya. Itu boleh-boleh saja, tetapi pandangan semacam ini sangat keliru. Sebab membangun keluarga baru adalah sama dengan membangun Rumah . Dalam keluarga baru berjuang mewujudkan keluarga yan sejahtera baik dirinya maupun anak-anaknya .Bukan menelantarkan anak-anak sehingga akhirnya mereka jadi pemulung diatas negeri Dollar ini . Setiap keluarga mendapat tugas tersebut. Keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak adalah sebuah Gereja kecil yang harus dan ditata dan dihidupkan bersama-sama, bukan orang lain yang datang mengaturnya.


Untuk itu, Ketua solidaritas anak-anak jalanan ini mengharapkan, setiap keluarga dituntut menata kelurganya sendiri, bukan tergantung pada keluarga lain atau orang lain. Setiap keluarga menyadari akan pentingnya keharmonisan hidup sebagai suatu bahtera mini se dang berdayun ditengah –tengah lautan lepas . Kita berusaha selamatkan generasi masa depoan ini bukan menelantarkan mereka .Keluarga sendirilah yang menghidupi kehidupan keluarga. Tidak benar jika kehidupannya mengharapkan kepada keluarga atau pihak lain.
Keluarga yang benar , keluarga yang hidup dalam kasih, mengantar anak ke pintu kesuksesan kepada kehidupan lebih baik dari kita bukan menggiring kepada dunia kehancuran atau masa depan yang suram . Keluarga yang saling menghargai, menghormati, saling mendengar, saling berdiskusi, saling menerima apa adanya, tidak menceritakan keburukan keluarga lain, saling membantu satu sama lain, serta ikut aktif bersama dalam kegiatan-kegiatan sosial demi mengantar dan menyelamatkan masa depan anak-anak generasi masa depan .
Pengalaman baik dan buruk kata Pigay harus dialami bersama dalam kehidupan keluarga. Keluraga hendaknya menghindari sumber-sumber konflik yang terjadi dalam keluarga itu sendiri, juga dari luar. Hanya karena ekonomi rumah tangga tidak terpenuhi, sering terjadi kacau, misalnya. Jika terjadi demikian, setiap keluraga harus tanya apakah hal ini menjadi jaminan hidup keluarga?.“Orang Papua memiliki banyak kekayaan, tetapi keluarga justru menjadi miskin. Kenapa? Kekayaan dibagi-bagi dengan saudara lain tanpa memikirkan pendidikan anak, kebutuhan keluarga dan sebagainya,”sorotnya.


Meski orang Papua adalah tergolong orang kaya tetapi menurut Matias , banyak keluarga yang hidupnya tergantung pada orang lain. Mentalitas ini berkembang ketika dimana Otonomi Khusus (Otsus) dan dana-dana lain diberikan secara langsung kepada rakyat Papua. Sikap berharap pada bantauan pemerintah kian subur di tengah masyarakat. Dan satu kelemahan pemerintah bahwa perhatian pemerintah terutama dinas sosial sangat tidak peka melihat realitas anak-anak ini , padahal UU dasar Negara ini telah menjamin anak-anak terlantar namu n pada realitasnya pembiaran terhadap dinamika anak –anak pemulung ini . Maka diperlukan Dinas terkait perlu melakukan penanganan , kalau bilang tidak ada sangat omong kosong . Dana besar diturunkan itu semua dikemanakan ?” tanya pigay .emanuel goo

Continue reading...

Profil Elpema

Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Papua didirikan oleh Kaum Muda Papua pada tanggal 10 November 2008 yang disyahkan oleh Notaris Agustina . Elpema Papua berkantor di Jalan Siriwo KPR Siriwini Nabire dengan mengemban sebuah visi memberdayakan kaum tak berdaya lewat misi berperan aktif dalam pengembangan dan pemberdayaan ekonomi rakyat Papua serta pendampingan usaha kecil, menengah serta menyelenggarakan pelatihan-pelatihan, studi/penelitian dan publikasi. Melakukan promosi kesetaraan Gender dan pendampingan anak jalanan, serta penguatan masyarakat sipil, juga Demokratisasi & HAM.



Kendatipun Elpema Papua belum genap setahun namun telah melakukan sejumlah kegiatan

1. Kerjasama Survei REMDEC & ELPEMA Papua dalam rangka penguatan kapasitas POLRI Januari 2009

2. Menerbitkan Buku Ketawa Ala Papua

3. Suvey potensi ekonomi masyarakat lokal Kabupaten Dogiyai & Nabire Mei 2009

4. Survei Kondisi Perempuan Dalam Akses Pasar Juli 2009
Continue reading...

Misi:

1. Berperan aktif dalam pengembangan dan pemberdayaan ekonomi rakyat
Papua serta pendampingan usaha kecil, menengah.

2. Menyelenggarakan pendidikan, pelatihan-pelatihan, studi/penelitian dan
publikasi dalam bentuk buku, majalah, dan News letter.

3. Melakukan promosi kesetaraan Gender dan pendampingan anak jalanan,
remaja serta penguatan masyarakat sipil, juga Demokratisasi & HAM
Continue reading...
 

Followers

ELPEMA PAPUA Copyright © 2009 Not Magazine 4 Column is Designed by Ipietoon Sponsored by Dezigntuts